Selasa, 18 Agustus 2009

Medco Energy Mengembangkan Bio-Ethanol

Produktifitasnya ditargetkan mencapai 180 kilo liter perhari, atau sekitar 60 ribu kilo liter pertahun. Pabrik itu diharapkan menjadi alternatif energi terbarukan, yang ramah lingkungan.

Menurut Djatnika S Puradinata, Presiden Komisaris Medco Energy Chemicals, bio-ethanol bisa dimanfaatkan 100% sebagai bahan bakar, ataupun dicampur dengan bahan bakar fosil, seperti bensin dan solar.

Hal itu disampaikan oleh Djatnika saat membahas bio-ethanol di acara Green Talk, 89.2 FM Green Radio.

GR (Green Radio): Apa itu bahan bio-ethanol?

DJ (Djatnika): bio-ethanol sama dengan alkohol, berbahan kimia. Disebut bio-ethanol karena bahan bakunya berasal dari bahan biologi, seperti singkong, jagung, tebu dan lain-lain. bio-ethanol dapat meningkatkan oktan number dari bensin, sehingga lebih ramah lingkungan dibandingkan penggunaan bensin secara langsung. Artinya, CO2 yang dihasilkan dari bio-ethanol akan lebih rendah dari emisi yang dikeluarkan bensin dan solar.

GR: Penggunaan bio-ethanol di kendaraan?

DJ: Saat ini, pemerintah mengharuskan pencampuran bio-ethanol ke bahan bakar. Jumlahnya yaitu 1% ke dalam bensin, dan 5% dalam solar. Tidak hanya untuk campuran, bio-ethanol pun bisa digunakan semuanya sebagai bahan bakar. Hal itulah yang membuat unik bio-ethanol.

Namun di Indonesia, pelaksanaan 100% bio-ethanol sebagai bahan bakar belum siap. Berbeda di Brazil, yang sudah menggunakan 100% bio-ethanol dengan memodifikasi kendaraan terlebih dahulu.

GR: Apa kelebihan menggunakan bio-ethanol 100%?

DJ: Segi pembuatan akan lebih murah karena produksinya pun semakin banyak. Hal itu akan berdampak harga untuk dibeli warga pun akan menjadi murah. Hal itu terjadi di Brazil, harga jual bio-ethanol 100% lebih murah dibandingkan bio-ethanol yang dicampur.

GR: Mengapa Medco tertarik mengembangkan bio-ethanol?

DJ: Bio-ethanol berasal dari sumber daya alam yang dapat diperbarui, kebalikan dari bahan bakar fosil. Bahan baku bio-ethanol pun berlimpah di Indonesia, seperti jagung, tebu, singkong, sagu, hingga nira. Yang dikembangkan oleh Medco berasal dari singkong.

GR: Lalu, apa yang sedang dipersiapkan Medco?

DJ: Kami sedang membuat pabrik bio-ethanol, berkapasitas 180 kilo liter perhari atau 60 ribu kilo liter pertahun, di Kota Bumi, Lampung Utara. Pemilihan tempat ini karena disana berlimpah ribuan hektar tanaman singkong.

GR: Penggunaan singkong seperti apa?

DJ: Kami mengembangkan singkong yang bobotnya bisa mencapai 30 kg per satuannya. Singkong olahan tersebut dipilih agar tidak mengganggu singkong untuk pangan warga. Meskipun singkong untuk pangan warga itu bisa menjadi bahan baku bio-ethanol.

GR: Penyediaan singkong itu dari Medco saja atau dari petani?

DJ: Kita bermitra dengan petani yang ada, artinya kita menampung singkong dari mereka. Medco membantu agar pasokan singkong tetap stabil. Caranya dengan membantu menyediakan bibit, penyuluhan ke warga bagaimana cara menanam yang baik, memberi pupuk, hingga proses panennya. Semuanya dilakukan agar petani mampu menghasilkan singkong yang baik.

GR: Proses pembuatan bio-ethanol-nya ramah lingkungan, tidak?

DJ: Tentu saja. Semua tahapan pembuatannya memperhatikan hal itu. Mulai dari proses fermentasi, limbahnya dimanfaatkan jadi pupuk, dikeringkan jadi pakan ternak, hingga dijadikan energi lagi bila dibakar. Bahkan gas metan yang dihasilkan dari proses fermentasi itu kita gunakan untuk turbin menggerakan listrik. Sebisa mungkin Medco akan meminimalisir limbah tersebut.

GR: Bagaimana dengan harga?

DJ: saat ini, biaya produksi masih ada di atas harga penjualan bensin. Sehingga pemerintah, dalam hal ini Dirjen Migas, merencanakan memberikan subsidi pada bahan bakar bio-ethanol. Hal ini terkait suppy-demand yang masih kecil, meskipun pabrik Medco saat ini terbesar di Indonesia. Angka itu cukup kecil bila dibandingkan di Brazil yang telah mencapai produksi 100rb kilo liter pertahun. Bahkan Brazil siap membangun pabrik berkapasitas lebih dari 400 ribu kilo pertahun. Limpahan kapasitas itu membuat harga bio-ethanol terjangkau.

GR: Ada rencana mengembangkan pabrik bio-ethanol di Papua?

DJ: Iya, kami akan membangun pabrik yang lebih besar disana. Hal itu untuk menekan biaya produksi lebih rendah. Bahan baku yang dipakai adalah tebu dan sorgum. Keduanya memiliki potensi sumber energi lainnya yang bisa dimanfaatkan. Sorgum menghasilkan buah yang juga menghasilkan bio-ethanol. Begitu pula tebu, dari proses olahan, tebu menghasilkan bagas atau sisa perasan tebu. Sisa tebu itu dapat menghasilkan listrik dari uap bagas itu.

Diyakini Indonesia bisa menjadi sumber energi terbarukan yang besar, dan menyaingi Brazil. Hal itu bisa tercapai selama Indonesia bisa mengelola sumber daya manusia, potensi alam dan teknologi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

google918401c9860b4077.html