Jumat, 14 Agustus 2009

“Mengebor” Minyak di Pohon Aren

Krisis ekonomi global dan ketergantungan terhadap impor, ditambah kapasitas produksi minyak dalam negeri dari waktu ke waktu yang terus menurun, menuntut pemerintah mengembangkan bahan bakar alternatif yang lebih murah dan tentu harus ramah lingkungan.

Muncullah berbagai pilihan. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), yang memiliki segudang peneliti, mulai menyebut beberapa alternatif, di antaranya mengembangkan energi biomassa, biodiesel, dan bioetanol. Guna mengikat rencana tersebut, pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional untuk mengembangkan sumber energi alternatif sebagai pengganti BBM. Namun, peraturan ini dinilai belum cukup, karena hanya menekankan penggunaan batu bara dan gas sebagai pengganti BBM.

Pemerintah pun pada 25 Januari 2006, mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) No 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai bahan baskar lain. Sejak Inpres itu dikeluarkan, eksplorasi sumber-sumber alam alternatif dimulai. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pun hingga saat ini gencar memasyarakatkan penggunaan bahan bakar nabati untuk penghematan energi dan penyelamatan lingkungan.

Kalau kita kembali menelusuri sejarah, Rudolf Diesel, sang penemu mesin diesel, memang sejak awal merancang mesin diesel yang berbahan bakar minyak kacang. Rudolf lalu mendemonstrasikan temuannya itu dalam World’s Exhibition di Paris pada tahun 1900. Tetapi dalam perkembangannya, justru bahan bakar solar dari hasil olah minyak bumi yang banyak digunakan.

Dengan harga yang murah dan mendapat subsidi pemerintah, BBM menjadi pilihan satu-satunya, sampai akhirnya krisis global mendongkrak harga minyak ke level tertinggi dalam sejarah. Banyak pihak di negeri ini berteriak, menuntut pengembangan energi alternatif.

Yuddy Chrisnandi dalam Konvensi Calon Presiden RI 2009-2014 di Jakarta, Sabtu (7/3), mengatakan, kalau pemerintah salah mengelola, tahun 2040 minyak bumi akan habis. Calon presiden muda itu sangat cemas, bagaimana nasib bangsa ini kalau minyak bumi habis.

Marwah Daud, capres lain dari Dewan Integritas Bangsa (DIB) mengatakan, negara kita ini sangat kaya. Sumber daya alam melimpah. Tetapi kita miskin, karena pemerintah salah urus. Namun, jangan khawatir, ada banyak alternatif jika stok minyak bumi habis.
Saat ini, tegas Marwah, dirinya tengah mengembangkan bio- etanol di Garut, Jawa Barat. “Kita tidak akan jual singkong, tetapi bioetanol,” katanya.

Pemanfaatan bahan bakar nabati tentu membawa sebuah harapan besar akan terjadinya perubahan di negara ini. Selain meningkatkan devisa, pemanfaatan bahan bakar nabati juga akan membuka lapangan kerja baru dan membantu mengurangi angka kemiskinan. Selain itu, bahan bakar nabati ini juga diharap bisa mengurangi polusi udara akibat pembuangan gas dari kendaraan bermotor yang berbahan bakar minyak.

Namun, banyak pihak cemas, eksplorasi dan eksploitasi energi alternatif ini akan merusak hutan, melemahkan ketahanan pangan, dan merusak pasar domestik. Ada dua alternatif sumber biodiesel yang paling prospesktif saat ini, yakni minyak kelapa sawit dan jarak pagar. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, dibutuhkan lahan yang luas. Konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit akan membuat hutan kita rusak. Aktivis lingkungan seperti Walhi memperkirakan industri biodiesel akan mengulangi kesalahan seperti yang telah dilakukan oleh industri pulp dan kertas, karena merusak hutan.

Program bahan bakar nabati juga akan mengakibatkan naiknya harga komoditas pertanian tertentu, sebagai dampak konversi besar-besaran tanaman pangan menjadi tanaman penghasil biofuel.

Dampak lain yang tidak kalah penting adalah ancaman kegagalan menciptakan pasar domestik. Ketika konversi lahan terlaksana, hasil panen melimpah, sementara pemerintah tidak menyiapkan teknologi pengolahan yang modern, maka kita hanya akan menjadi penyedia dan pengekspor bahan baku energi alternatif ke negara-negara industri. Kalau ini yang terjadi, sia-sia upaya mencari energi alternatif.

Pohon Aren

Prabowo Subianto, calon presiden dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) menyadari betul dampak dari penerapan energi alternatif. Dalam pemaparan 8 program aksi untuk kemakmuran rakyat, di Jakarta, Selasa (10/3), ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) itu mengatakan, pihaknya telah menyiapkan program kemandirian energi.

Konsep Prabowo sederhana saja. Dia akan membuka 2 – 4 juta hektare hutan aren, dengan sistem tanam tumpang sari, untuk produksi bahan bakar etanol sebagai pengganti BBM. Pembukaan lahan ini akan menjadikan Indonesia sebagai negara pengekspor bahan bakar nabati setelah 7 tahun masa tanam. Dalam kalkulasinya, empat juta hektare hutan aren menghasilkan sekitar 56 juta mt etanol/tahun.

Mengapa pohon aren? Ide ini muncul ketika ia mengamati beberapa negara Amerika Latin yang beralih menggunakan energi alternatif, seperti Kolombia, Brasil, dan Tanzania di Afrika Timur. Setelah diselidiki, kata Prabowo, ternyata tanaman aren seluas empat juta hektare yang ada di Kolombia itu berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara. “Brasil kirim pakar ke Minahasa. Tanzania kirim menteri ke Minahasa untuk meneliti dan belajar program etanol dari aren. “Lalu Indonesia?” tanya Prabowo kecewa.

Indonesia memang kaya akan sumber alam. Bahan bakar nabati bisa dari apa saja. Kita tidak perlu lagi mengebor bumi untuk mengais sisa-sisa minyak. Saatnya mengebor minyak yang ada dari energi alternatif. Ada kelapa sawit, jarak pohon, singkong, aren, kemiri, tebu, jagung, sagu, dan sebagainya. Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan.

Sumber: Suara Pembaruan, Jumat 13 Maret 2009: http://alumnifatek.forumotion.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

google918401c9860b4077.html