Kamis, 18 Juni 2009

Baik-Buruk Biofuel

Biofuel adalah salah satu energi alternatif pengganti bahan bakar fosil yang kian hari kian mendapat perhatian dari banyak kalangan. Namun mungkin masih banyak dari kita yang belum tahu apa itu biofuel dan apa sisi baik dan sisi negatif dari produksi biofuel yang perlu kita tahu. Apalagi kelapa sawit Indonesia banyak disorot sebagai sumber biofuel yang dianggap tidak baik. Kenapa begitu? Berikut petikan hasil investigasi Vikki Miller dari Guardian.

Apa itu biofuel?
Biofuels dapat dibuat dari bahan-bahan organik yang bisa dikembangkan secara cepat. Dua pemain besar di pasaran adalah biodiesel dan bioethanol – minyak cair yang terbuat dari organisme hidup, seperti tanaman dan hewan. Pertimbangannya daripada bahan bakar fosil, biofuel adalah sumber energi yang bisa diperbaharui dan berkelanjutan, juga salah satu dari sedikit teknologi yang menggantikan penggunaan bahan bakar minyak pada untuk transportasi.

Dari mana kita memperolehnya?
Sebagian besar biofuel yang digunakan saat ini berasal dari pertanian. Tiap-tiap negara mengkhususkan diri pada tipe biofuel tertentu, tergantung pada iklimnya. Di Eropa biofuel diolah dari rapeseed (Brassica napus), gandum, tebu, Sementara di Amerika umumnya berasal dari jagung dan kacang merah (soybeans). Tebu cenderung tumbuh di Brasil dan minyak kelapa sebagian besar berasal dari Asia Tenggara.

Namun, saat ini tiba pada biofuel generasi kedua – dengan sumber bahan pembuatan biofuel yang lebih luas, termasuk zat-zat organik, sisa makanan, kayu, limbah rumah tangga, bisa diolah menjadi biofuel. Disini seluruh hasil pertanian bisa digunakan sehingga kita bisa efisien dalam pengurangan gas karbon. Hanya saja para ahli meyakini masih perlu lima hingga sepuluh tahun untuk membuatnya berjalan secara komersial.

Juga ada harapan cukup tinggi pada algae dan jatropha, tumbuhan semak beracun yang tumbuh di Amerika, Afrika dan Asia.

Bahkan produk seperti coklat, permen, dan kripik kentang pun bisa diubah menjadi biofuel.

Apakah ini penemuan baru?
Tak sepenuhnya. Mesin diesel, yang diciptakan insinyur Jerman Rudolf Diesel 1892, pertama kali dijalankan menggunakan minyak kelapa. Di awal 1900an, Henry Ford mendesain salah satu kendaraan pertamanya berbahan bakar ethanol.

Kenapa penggunaan biofuels sempat dihentikan?
Minyak bumi murah, khususnya dari Timur Tengah, mengalihkan minat dan penelitian dari biofuel. Minyak bumi murah mendominasi pasar.

Kenapa sekarang biofuel kembali diminati?
Berkembangnya kepedulian pada perubahan iklim, peningkatan harga minyak bumi dan ketidakamanan suplai minyak bumi membuat pemerintah dan kalangan industri bergegas mencari alternatif pengganti. Amerika bertekad 2025 mengganti 75% minyak bumi importnya dengan biofuel. Uni Eropa meyakini biofuel sebagai faktor kunci penurunan karbon di masa datang, dan menargetkan 10% transportasi berbahan bakar biofuel di 2020.

Apa untungnya beralih ke biofuel?
Sumber biofuel dapat diperbaharui, suplai bisa disediakan sesuai yang dibutuhkan, sehingga secara teori jumlahnya tidak terbatas dan aman. Juga tidak pelarangan biofuel di banyak negara sehingga bisa suplai bisa terkendali. Kelebihan lainnya, biofuel bisa digunakan untuk menjalankan mobil dan mesin-mesin yang ada sekarang.

Apakah biofuel baik untuk lingkungan?
Secara teori, pembakaran biofuel akan melepaskan karbon sejumlah yang dia ambil ketika masih berupa tumbuhan saat bertumbuh. Kalau ditotal jumlah karbon yang dihasilkan saat dipanen, diolah dan didistribusikan, mungkin masih belum cukup memuaskan. Namun, ini tetap jauh lebih sedikit dibanding penggunaan bahan bakar fosil.

Adakah dampak negatifnya?
Biofuels juga memunculkan kritik menyangkut lingkungan hidup. Selain melepaskan emisi karbon yang rendah saat pembakaran, namun peningkatan perluasan lahan pertanian untuk produksi biofuel secara keseluruhan juga punya sumbangan pada peningkatan karbon di atmosfir.

Konsumsi biofuel yang meningkat secara global berarti juga ada sumbangan dalam pengrusakan hutan basah dan hutan tropis untuk menyediakan lahan tanaman sumber biofuels. Gas rumah kaca dalam jumlah yang sangat besar dilepaskan saat pembukaan lahan, ini membuat para ilmuwan meragukan ini sebagai solusi pengurangan gas karbon. Ini juga punya dampak utama pada konservasi tanaman dan binatang yang hidup di area itu, sebagaimana makin rentannya perlindungan air dan tanah.

Saat ini juga mulai dikenali dampak kekerasan social dan ekonomi yang bisa timbul. Kelangkaan bahan pangan meningkat di negara-negara miskin, karena perubahan lahan pertanian tradisional menjadi ladang pertanian untuk kebutuhan biofuel.

Belum lagi, peningkatan kebutuhan pada hasil pertanian, seperti beras, jagung atau soya, yang juga bisa digunakan selain sebagai bahan pangan juga biofuel, telah mendongkrak harga, membuat kaum miskin semakin sengsara. Di Mexico tahun lalu terjadi kerusuhan.


Apakah sebagian biofuels lebih baik dari yang lain?
Biofuel yang terbaik, seperti ethanol diproduksi dari tebu di Brazil, dapat menghasilkan energi 10 kali dari energi yang dibutuhkan untuk memproduksinya, dan melepaskan seperempat gas emisi karbon dibandingkan bahan bakar fosil.

Sebaliknya, biofuels yang tidak bagus menghasilkan energi yang lebih rendah, dan menyumbang emisi karbon secara tidak langsung melalui pembakaran hutan dan konversi hutan untuk lahan tanam mereka. Biodiesel yang diproduksi dari minyak kelapa sawit di Indonesia adalah contoh biofuel yang buruk.

Sumber: http://www.guardian.co.uk

source :http://www.greenradio.fm/index.php?option=com_content&view=article&id=399:baik-buruk-biofuel&catid=91:bio-energy&Itemid=171

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

google918401c9860b4077.html